Itu adalah kata-kata "wejangan" yang pernah diluncurkan oleh seorang dosen. Eits, jangan salah dulu. Slogan itu tidak berniat mengajak kita menjadi sombong loh. Tentunya, kata-kata tadi diutarakan dengan niat baik.
Mengapa kita harus narsis? Okey, sejujurnya, berapa banyak dari kita yang sering mendapat pujian atas diri kita? Mungkin tidak banyak, atau boleh jadi kita sering menjadi bahan celaan dari teman-teman. Cela ataupun Pujian mungkin sudah kita anggap biasa, tapi apabila diteliti lebih dalam maka akan timbul 2 efek psikologis secara tidak langsung.
Efek bila terlalu sering mendapat pujian yang berlebihan bisa membuat kita menjadi sombong, namun apabila terlalu sering mendapat celaan, efeknya kita secara tidak langsung tertanam image yang membuat kita bisa menjadi sangat minder.
Dari SMP, martin merasa dirinya tidak pernah lebih tampan daripada teman-temannya. celakanya, teman-temannya sering juga membuat semacam lelucon bahwa memang rupanya jelek. Meski itu hanya lelucon, martin secara tidak sadar menanamkan pada dirinya bahwa dirinya jelek. Hal itu berakibat banyak di dalam pergaulannya. Martin menjadi bukan martin.
Contoh tersebut tentu sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kata Pak Mario Teguh, Setiap hari kita sering mendapat cela bahwa kita kurang ini-kurang itu, seharusnya begini-begitu, harusnya kmu seperti A atau B. Tidak dihargai atasan, tidak diperhatikan oleh kawan, bahkan diremehkan kekasih sendiri. Kalo begitu, siapa yang mendukung diri kita apabila bukan diri kita sendiri?
Hargailah diri sendiri. Itu adalah intisari dari tulisan ini. Hidup itu sudah berat, dan jangan tambah beban anda tentang anda sendiri. Sadar diri itu perlu, tapi jangan sampai membuat kita menjadi rendah diri. Itu lah maksud slogan ini, kalo mencuplik pak mario, ini adalah slogan super!
Inspired by a Beautifull Lady
Martin
Djakarta, 2007
Kamis, September 27, 2007
Jumat, September 21, 2007
0083. Kembalinya seorang teman
1 Minggu lalu, saya mendapatkan sebuah keajaiban. Ya, sebuah keajaiban, karena saya mendapatkan pm (private message -red) dari teman saya yang telah lama hilang. Waktu melihat pm tsb, saya seperti melihat orang yang mati hidup kembali.
Segera, setelah itu, dengan penuh rasa gembira, saya menghubungi teman saya itu. Tidak menunggu lama, saya sudah terlarut dalam waktu karena berbincang banyak hal dengan teman saya itu. Saya menanyakan, mengapa dia tidak memberi kabar kepada siapapun tentang kepergiannya kepada saya dan kawan yang lain? dia tidak menjawab. It's okey, saat ini saya paham, dan tidak menanyakan lebih lanjut. Saya sampaikan bahwa saya, dan kawan-kawan yang lain gembira bahwa dia sudah kembali.
Saya jadi teringat falsafah saya, bahwa dari teman biasa menjadi teman baik adalah dengan cara menjembatani perbedaan yang ada (mungkin lewat sebuah pertikaian). Seperti saya dan joko, yang sempat bertengkar selama 3 bulan karena masalah sepele. Kini kami telah berteman baik, hanya waktu yang tinggal menetapkan kita sebagai seorang sahabat.
Saya harap teman saya akan seperti demikian. Selamat datang kembali kawan!
Martin
Di Djakarta 2007
Segera, setelah itu, dengan penuh rasa gembira, saya menghubungi teman saya itu. Tidak menunggu lama, saya sudah terlarut dalam waktu karena berbincang banyak hal dengan teman saya itu. Saya menanyakan, mengapa dia tidak memberi kabar kepada siapapun tentang kepergiannya kepada saya dan kawan yang lain? dia tidak menjawab. It's okey, saat ini saya paham, dan tidak menanyakan lebih lanjut. Saya sampaikan bahwa saya, dan kawan-kawan yang lain gembira bahwa dia sudah kembali.
Saya jadi teringat falsafah saya, bahwa dari teman biasa menjadi teman baik adalah dengan cara menjembatani perbedaan yang ada (mungkin lewat sebuah pertikaian). Seperti saya dan joko, yang sempat bertengkar selama 3 bulan karena masalah sepele. Kini kami telah berteman baik, hanya waktu yang tinggal menetapkan kita sebagai seorang sahabat.
Saya harap teman saya akan seperti demikian. Selamat datang kembali kawan!
Martin
Di Djakarta 2007
Langganan:
Postingan (Atom)
