Kamis, Oktober 26, 2006

0069. Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1427H

Setelah 30 Hari menyaksikan perjuangan para sahabat-sahabat saya yang beragama muslim untuk menunaikan ibadah puasa, dengan tabah dan semangat yang luar biasa kerasnya. Saya turut bahagia, melihat kalian semua dapat merayakan hari raya Idul Fitri 1427 Hjiriyah dimanapun kalian berada.

Melalui tulisan ini, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Maafkan saya, apabila saat berpuasa, saya selalu menjadi setan yang selalu menggoda kalian.

Harapan saya, semoga di saat yang indah ini, kalian dapat merayakan Lebaran bersama keluarga, teman, dan siapapun yang mencintai dan anda cintai, dalam kehangatan kasih dan kebersamaan.

Selamat hari raya Idul Fitri!

0068. Musim Undangan Berbuka Bersama

Tulisan ini tidak berniat menghakimi, atau menyalahkan siapa pun. Bisa saja saat ini sang penulis sedang khilaf dan bertindak sok tahu.

Masih berbicara soal hikmah saat masa puasa, saya geleng-geleng kepala saat menerima ajakan berbuka bersama yang banyak itu. Entah itu dari rekan kerja, sahabat, atau dari kelompok masyarakat lain.

Tentu saja, saya senang dengan hal tersebut, karena menjadi ajang bagi kita untuk memperat tali silaturahmi. Bahkan harus saya akui, buka bersama juga bisa menjadi ajang PDKT (pendekatan –red) para pemuda terhadap gadis yang disukainya.

Namun yang menjadi catatan adalah kemeriahan yang luar biasa saat kita melakukan buka bersama, makanan yang mewah dan melimpah yang membuat kita sampai tidak sanggup menyantapnya. Di sisi lain, di luar restaurant kita makan, masih banyak saudara kita yang bekerja keras supaya di hari lebaran nanti, mampu membelikan sesuatu bagi anak-anak mereka.

Disisi satu saya menikmati makanan ini, disisi lain saya turut merasa bersalah. Harapan saya adalah boleh saja kita berbuka bersama sebanyak kita mau, hendaknya tidak lupa kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu.

Istilahnya kerennya, Yok Buka Bareng, tapi Zakat-nya juga donk...

0067. Menggunakan Kaum Miskin sebagai alat ke surga??

Tulisan ini tidak berniat menghakimi, atau menyalahkan siapa pun. Bisa saja saat ini sang penulis sedang khilaf dan bertindak sok tahu.

Suatu ketika, saat masa puasa (islam), saya diundang untuk berbuka bersama. Undangan yang barang tentu tidak dapat saya tolak, mengingat kita sudah jarang bersilahturahmi dengan para sahabat.

Saat tiba di tempat berbuka, saya melihat sebuah keluarga yang mengundang para Anak yatim-piatu untuk berbuka bersama. Saya senang melihat hal tersebut, terlihat sekali mereka tulus dan bahagia untuk melakukan hal tersebut bersama-sama.

Saya melihat anak-anak tersebut ceria, dan tertawa bersama teman-teman sebayanya, menyantap hidangan buka puasa. Suatu kemewahan tersendiri bagi mereka saat merasakan hidangan tersebut.

Saat akan selesai, seorang anak yang mungkin menjadi pemimpin dari anak yatim piatu membacakan pesan doa bagi anak-anak. Intinya keluarga tersebut meminta beberapa permohonan doa dan didoakan bersama. Suatu hal yang lumrah bagi semua orang tentu saja tapi tidak bagi saya.

Permohonan tersebut dibacakan seakan-akan anak2 tersebut diundang bersama untuk makan dan kemudian mendoakan keluarga tersebut. Permohonan doa tersebut ada yang bersifat wajar, seperti mohon kesehatan, dan kelancaran studi anak.. dan ada yang menurut saya berlebihan misal Keluarga tersebut berharap dinaikkan derajatnya dsb. Ada kata-kata yang menyentil saya saat anak tersebut berkata “Masak abis dibelikan KFC, kita ga mau mendoakan”

Saat bertanya kepada teman saya, teman saya bilang hal tersebut tidak salah, dan saya setuju dengan pendapatnya. Tapi masih ada yang menggelitik bagi saya, mengapa kita harus menggunakan kaum miskin supaya doa kita didengar? Apakah tidak cukup apabila saat berbuka bersama tersebut, kita sudah berbagi ceria dan kebersamaan?

Seandainya pun ada doa yang diucapkan, saya berharap bahwa doa tersebut ikhlas keluar sendiri dari anak-anak tersebut. Selebihnya mari kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa.

0066. Anak Anti Kekerasan

Liburan lebaran kemarin, saya kembali berkunjung ke saudara saya yang di bandung. Menengok keponakan saya, marvel (2,5 Tahun) yang kini semakin cerdas dan aktif. Ada beberapa kejadian yang membuat saya merasa bahwa saya sedang diberi pelajaran oleh marvel, yaitu soal anti kekerasanan.

Suatu waktu, saat saya sedang jalan-jalan sore dengan sepupu saya yang masih SD tapi bandel, dan tentu saja dengan marvel. Saya bercanda dengan sepupu saya dengan bergulat. Meskipun bermaksud utk bercanda, tentu saja bagi anak kecil yang tidak tahu apa apa, hal tersebut tampak seperti berkelahi sungguhan.

Tiba-tiba marvel berteriak dan menangis, berteriak om aal jangan dipukul. Hah? Saya jadi tertegun. Seorang anak kecil, dengan polos menyatakan bahwa saya harus berhenti memukul sepupu saya. Saya kira semua anak kecil yang ada di dunia ini, pasti melakukan hal yang sama. Namun, saat kita dewasa, kita seringkali sudah lupa akan hal itu, yang akibatnya dengan mudah kita melakukan kekerasan, entah terhadap kawan, sahabat, istri, anak, atau mungkin terhadap siapa saja yang menyayangi kita.

Kalau begitu, dimanakah jiwa anak kecil kita itu tadi?

0065. Advokasi bagi para petani

Negara saya adalah negara kepulauan, yang luas daerahnya 65% adalah lautan, sebuah negara maritim sebenarnya. Walaupun demikian, negara kami juga adalah negara agraris sekaligus.

Penduduk negara saya yang bergerak di bidang pertanian sebagian besar adalah buruh petani (tidak memiliki tanah), dan sisanya baru petani (pemilik tanah). Hal tersebut karena terbatasnya areal pertanian kami, yang oleh sebab lain, sedikit demi sedikit berubah menjadi rumah dan area industri.

Kita tidak bisa menyalahkan hal tersebut, karena hal tersebut juga demi kemajuan kita bersama, namun disisi lain kita sendiri melupakan kekuatan pangan kita.

Sekali lagi, kita mengorbankan petani kita

Namun, setelah mengorbankan petani-petani kita, kita masih berbuat sesuatu yang kejam luar biasa. Mempermainkan pupuk, mempermainkan harga dan jumlah stok beras, menghambat orang-orang yang berjuang bagi para petani (baca : nasib Nutrisi Saputra), dengan mengimpor beras-gula secara besar-besaran.

Masih banggakah kita dengan hal tersebut?

0064. Negara Paradoks

Tulisan ini adalah murni sebuah opini seorang warga negara biasa.

Saya adalah salah satu sebuah negara yang sebenarnya dapat membuktikan dirinya(negara) sebagai negara besar. Namun, hal itu tak terjadi, karena negara saya adalah negara paradoks. Banyak pertentangan yang bersifat paradoks, yang membuat kami seakan-akan berlari di tempat dengan kecepatan 40Km/jam. Sebuah hal yang sia-sia.

Berikut ini adalah salah satu contoh-contoh paradoks di negara saya
  • Sebuah negara yang luas, dan kaya akan sumber daya mineral, minyak, gas, batubara, hutan dan laut, tanah yang subur, dengan potensi penduduk sebanyak 220 juta jiwa. Namun, hampir 85% warganya memiliki pendapatan per kapita yang rendah
  • Hampir 65% warga negara menderita kelaparan, krisis gizi, tidak mendapat fasilitas kesehatan dan pendidikan yang memadai, namun begitu banyak mobil impor yang bertebaran di jalan, pembangunan jalan raya yang begitu hebatnya untuk menampung semua kendaraan tersebut
  • Adanya UU yang mengatur warga negara supaya tidak berkelakuan pornografi dengan menentukan cara berpakaian dan bertindak. Namun begitu banyak VCD dan Majalah porno yang berserakan di jalan, sehingga seorang anak kecil pun dapat menikmatinya.
Dan masih banyak contoh-contoh paradoks lain, yang membuat kita hanya mampu bengong dan tidak berbuat apa-apa, sebuah paradoks lain yang kita buat sendiri.

Catt : persentase dan angka-angka statistik berdasarkan insting dan kesoktahuan penulis saja, sebuah paradoks lain yang saya buat.

Jumat, Oktober 06, 2006

0063. The Pride Of Gentleman

Ada sebuah kisah, seorang mahasiswa yang mencoba menempuh ilmu di negeri asing, dan dia dengan terpaksa meninggalkan kekasihnya. Namun, saat sebelum pergi dia mengucapkan janji bahwa dia tak akan pernah berpaling ke wanita lain.

Janji telah terucap, dan seakan dunia mencobainya. Dunia dengan politiknya memaksa dia untuk tidak bisa kembali ke negara asal, dan menjadi stateless. Dia mencoba mengkontak kekasihnya, namun tak ada kabar.

40 tahun lebih telah terlampau, dan dia menjadi tua. Namun, janji tetap dipegang, dia tetap mencoba menghubungi kekasihnya walaupun ikhlas akan segala keadaan yang mungkin terjadi. Dia tetap tak berpaling walaupun kekasihnya sendiri telah meninggalkan dia.

Tidak ada kesedihan, hanya kebahagian...

Kali ini gw ga punya komentar lebih banyak, tak akan bertanya secara aneh-aneh, spt : Apakah sepadan Janji itu dengan kesempatan yang begitu banyak dia lewatkan? dan pertanyaan - pertanyaan lainnya.

Bagiku, itulah adalah contoh nyata untuk teladan. Itulah Kebanggaan Sang Pria

Sumber : Detiknews.com - widodo mencari kekasihnya

Senin, Oktober 02, 2006

0062. OOP yang membingungkan di VB.NET

Konsep OOP memang belum gw kuasai secara penuh, tapi ada beberapa kenyataan yang paradoks saat gw mempelajari OOP Theory dengan VB.NET

Kenyataan yang bertolak belakang yang gw maksud adalah sederhana banget, masalah mempertahankan bentuk struktur pemrograman non Object di VB.NET (Sub Routine, Declare Procedure, dsb).

Akibat mempertahankan bentuk bahasa tersebut (mungkin dengan mempertimbangkan kompabilitas versi lama), maka teori akan OOP menjadi rancu. Yang saya pelajari adalah dalam OOP semua harus dipandang sbg Object, dimana tentu saja konsep Inheritance, Encapsulation, dan Polymorphism (standar OOP) diterapkan dengan benar. Sedangkan VB.NET masih memperbolehkan bahwa pandangan non Object masih dipertahankan.

Sisi positif dari VB.NET tentu saja adalah kekayaan bahasa (yang buat gw malah bikin ribet)

Sedangkan sisi negatif dari hal tersebut adalah kerancuan dalam memandang sebuah aplikasi. Yang seharusnya seragam (dalam bentuk object atau tidak sama sekali), malah harus berdampingan.

Gw tidak tahu pendapat yang lain, tapi buat saya ini adalah langkah yang "nanggung" yang dilakukan microsoft.