Tulisan ini tidak berniat menghakimi, atau menyalahkan siapa pun. Bisa saja saat ini sang penulis sedang khilaf dan bertindak sok tahu.
Suatu ketika, saat masa puasa (islam), saya diundang untuk berbuka bersama. Undangan yang barang tentu tidak dapat saya tolak, mengingat kita sudah jarang bersilahturahmi dengan para sahabat.
Saat tiba di tempat berbuka, saya melihat sebuah keluarga yang mengundang para Anak yatim-piatu untuk berbuka bersama. Saya senang melihat hal tersebut, terlihat sekali mereka tulus dan bahagia untuk melakukan hal tersebut bersama-sama.
Saya melihat anak-anak tersebut ceria, dan tertawa bersama teman-teman sebayanya, menyantap hidangan buka puasa. Suatu kemewahan tersendiri bagi mereka saat merasakan hidangan tersebut.
Saat akan selesai, seorang anak yang mungkin menjadi pemimpin dari anak yatim piatu membacakan pesan doa bagi anak-anak. Intinya keluarga tersebut meminta beberapa permohonan doa dan didoakan bersama. Suatu hal yang lumrah bagi semua orang tentu saja tapi tidak bagi saya.
Permohonan tersebut dibacakan seakan-akan anak2 tersebut diundang bersama untuk makan dan kemudian mendoakan keluarga tersebut. Permohonan doa tersebut ada yang bersifat wajar, seperti mohon kesehatan, dan kelancaran studi anak.. dan ada yang menurut saya berlebihan misal Keluarga tersebut berharap dinaikkan derajatnya dsb. Ada kata-kata yang menyentil saya saat anak tersebut berkata “Masak abis dibelikan KFC, kita ga mau mendoakan”
Saat bertanya kepada teman saya, teman saya bilang hal tersebut tidak salah, dan saya setuju dengan pendapatnya. Tapi masih ada yang menggelitik bagi saya, mengapa kita harus menggunakan kaum miskin supaya doa kita didengar? Apakah tidak cukup apabila saat berbuka bersama tersebut, kita sudah berbagi ceria dan kebersamaan?
Seandainya pun ada doa yang diucapkan, saya berharap bahwa doa tersebut ikhlas keluar sendiri dari anak-anak tersebut. Selebihnya mari kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa.