Kisah berikut ini merupakan fiksi dan rekayasa belaka, apabila ada nama tokoh, waktu dan tempat kejadian yang mirip itu hanya merupakan kebetulan semata.
Sabtu sore lalu, joshua lagi mo ke kampus. Si Doi neh, ceritanya ke kampus naik motor. Nah pas di persimpangan pramuka, tau-tau motornya bocor bannya. walah apes deh, mana mau ujian lagi.
Akhirnya si joshua ngedorong tuh motor nyari tukang tambel ban, agak jauhan dikit dilihat ada tukang tambal ban. Keringet udah ngucur kayak lumpur panas lapindo, eh pas sampai, orangnya kaga ada.
Karena diliatnya masih buka, si joshua nunggu tuh. Eh bentar ada 5 menitan, ada orang datang nuntun motor juga. Tau-tau orang itu nyelenong aja, trus markir motor, trus langsung masuk, bangunin orang yang didalemnya buat benerin tambal ban.
Nah, ternyata tukang tambal bannya lagi tiduran di dalem. Joshua kaga terima, protest donk dia, kok orang lain yang didahulukan, bukannya si joshua. Eh, si tambal ban bilang kalem, "sorry mas, itu bapak saya.."
Nah, si bapak itu menggerutu (pake bahasa daerah, biar agak rahasia yah kayaknya) "makanya kalo nebar paku, lihat-lihat donk. masak gw bisa kena juga..."
Nah loh....
Joshua abis ngos-ngosan
Kamis, Juni 21, 2007
Sabtu, Juni 16, 2007
0081. Anak jalanan, memberi uang atau tidak?
Judul diatas adalah judul topik acara TV bagimu negeri, di metro tv pekan lalu. Topik yang cukup menarik, karena hadir di situ elemen-elemen masyarakat, terutama dari mahasiswa, aktivis-aktivis LSM, dan dari perwakilan pemerintah.
Yang aku coba komentari disini adalah, pendapat bahwa: "Memberi uang begitu saja bagi anak jalanan adalah investasi terhadap kebodohan dan kemalasan".
Toean-toean, dan Joenja - joenja sekalian,
Benar mungkin bagi kita semua, pendapat di atas adalah sungguh masuk akal. Karena dengan memberikan uang itu, kita sudah memberikan pemikiran kepada anak itu bahwa dengan mengatungkan tangannya saja, mereka dengan mudah mendapatkan uang tanpa perlu "bekerja keras" (walaupun mereka telah berpanas-panasan dan jalan tanpa alas kaki). sehingga, kita melihat premis-premis tadi, kita menyimpulkan sebaiknya kita tidak memberikan uang kita.
Namun toean dan joenja sekalian, kita tidak tahu benarkah demikian adanya. Mungkin saja mereka sadar, namun papa. tidak berdaya dan tidak mempunyai akses kepada kehidupan yang layak. mereka adalah anak-anak, bukan orang dewasa yang telah mampu bekerja. kalaupun bersalah, salahkan orang tuanya, jangan anak-anak itu.
Saya mempunyai falsafah berikut: Kebaikan hati adalah sesuatu yang murah dan gratis. Sang pencipta memberikan nafas, kesehatan, dan akal budi gratis kepada kita hingga mampu bekerja. Demikian juga hendaknya, kita tidak menghalang-halangi hati kita untuk berbuat baik. Bila saat ini anda di jalan, dan anda tergerak, berbelas kasihan, untuk memberikan sedekah, berikan saja. Itu hak anda untuk berbuat baik.
Walaupun demikian, kita hendaknya tidak berhenti di situ saja. Tetaplah berjuang dengan cara lain, untuk membantu sesama kita agar mampu mengakses bentuk kehidupan yang layak (kesehatan dan pendidikan yang cukup). Anda bisa bergerak lewat bentuk donasi baik GOTA (Gerakan Orang Tua Asuh), menyumbang ke yayasan pendidikan dan yatim piatu secara berkala, mendanai penelitian dan riset untuk perbaikan gizi, bahkan lewat apapun yang anda bisa.
Selanjutnya, biarkan karya pencipta anda ikut andil dalam usaha anda. Hilangkan prasangka buruk, bahwa mereka itu hanya memperdaya kebaikan anda. Biarkan saja, biarkan waktu yang mengajari mereka nanti.
Pada akhirnya, saya setuju dengan kesimpulan terakhir acara tersebut dengan sedikit perubahan, bahwa bukan hanya pemerintahlah yang bertanggung jawab dengan keadaan para anak jalanan tersebut, namun demikian juga kita, elemen-elemen masyarakat, yang saya layak sebut sebagai negara.
Negara yaitu kita yang berkumpul dan mengaku sebagai anak bangsa yang bertanggung jawab terhadap anak-anak itu, bukan hanya pemerintah.
Martin di Djakarta
Yang aku coba komentari disini adalah, pendapat bahwa: "Memberi uang begitu saja bagi anak jalanan adalah investasi terhadap kebodohan dan kemalasan".
Toean-toean, dan Joenja - joenja sekalian,
Benar mungkin bagi kita semua, pendapat di atas adalah sungguh masuk akal. Karena dengan memberikan uang itu, kita sudah memberikan pemikiran kepada anak itu bahwa dengan mengatungkan tangannya saja, mereka dengan mudah mendapatkan uang tanpa perlu "bekerja keras" (walaupun mereka telah berpanas-panasan dan jalan tanpa alas kaki). sehingga, kita melihat premis-premis tadi, kita menyimpulkan sebaiknya kita tidak memberikan uang kita.
Namun toean dan joenja sekalian, kita tidak tahu benarkah demikian adanya. Mungkin saja mereka sadar, namun papa. tidak berdaya dan tidak mempunyai akses kepada kehidupan yang layak. mereka adalah anak-anak, bukan orang dewasa yang telah mampu bekerja. kalaupun bersalah, salahkan orang tuanya, jangan anak-anak itu.
Saya mempunyai falsafah berikut: Kebaikan hati adalah sesuatu yang murah dan gratis. Sang pencipta memberikan nafas, kesehatan, dan akal budi gratis kepada kita hingga mampu bekerja. Demikian juga hendaknya, kita tidak menghalang-halangi hati kita untuk berbuat baik. Bila saat ini anda di jalan, dan anda tergerak, berbelas kasihan, untuk memberikan sedekah, berikan saja. Itu hak anda untuk berbuat baik.
Walaupun demikian, kita hendaknya tidak berhenti di situ saja. Tetaplah berjuang dengan cara lain, untuk membantu sesama kita agar mampu mengakses bentuk kehidupan yang layak (kesehatan dan pendidikan yang cukup). Anda bisa bergerak lewat bentuk donasi baik GOTA (Gerakan Orang Tua Asuh), menyumbang ke yayasan pendidikan dan yatim piatu secara berkala, mendanai penelitian dan riset untuk perbaikan gizi, bahkan lewat apapun yang anda bisa.
Selanjutnya, biarkan karya pencipta anda ikut andil dalam usaha anda. Hilangkan prasangka buruk, bahwa mereka itu hanya memperdaya kebaikan anda. Biarkan saja, biarkan waktu yang mengajari mereka nanti.
Pada akhirnya, saya setuju dengan kesimpulan terakhir acara tersebut dengan sedikit perubahan, bahwa bukan hanya pemerintahlah yang bertanggung jawab dengan keadaan para anak jalanan tersebut, namun demikian juga kita, elemen-elemen masyarakat, yang saya layak sebut sebagai negara.
Negara yaitu kita yang berkumpul dan mengaku sebagai anak bangsa yang bertanggung jawab terhadap anak-anak itu, bukan hanya pemerintah.
Martin di Djakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
